About me

Feeds RSS
Feeds RSS

I'M PART OF THE SIMILIKITI

I'M PART OF THE SIMILIKITI

My visitors

Selasa, 20 September 2011

Cerpen... "ialah joko"

Kuperlihatkan sekeliling acara keramaian disekitar pikiran bersatu dengan keadaan. Kutatap seseorang yang ku yakin, ialah orang yang terlahir dengan kata kata. Ialah seseorang yang hidup tanpa berfikir.. Tatkala kesulitan depan mata, dari ujung perih menghadang kedepan berujung kesunyian diri sendiri.


Joko.....
Menghancurkan apa yang ada di hadapannya. Bukan tak berfikir, tapi keadaan yang menyebabkan dia begitu. Dari kejauhan kulihat apa yang di lontarkan dan di terima dari setiap pemikiran yang tak akan menyelesaikan masalah.


Dia bukan terpaku.. Keadaan konsentrasi menghadang pada setiap pelik pikirannya. 


"Susah konsentrasi....!!! itulah akuu!!! "


Sering kali terdengar lontaran kata uang entah tak tahu mengapa dan bagaimana bisa itu keluar. Kadang mengamuk, dan kadang ceria... Namun tak pernah kulihat ia menjatuhkan setetespun air mata perasaan.


Tak ada yang salah darinya.. Namun inilah takdir yang entah mengapa tuhan berikan pada anak itu..


***

Acara ini tak kunjung usai hingga larut malam. Aku tetap terpaku dengan menatap setiap tindakan apa yang ia lakukan. Sesekali ku mulai mengamati keadaan selanjutnya yang mungkin saja sama dengan pemikiranku.

Keramaian menyelimuti setiap sudut pandang keadaan. Segerombolan pula berbincang dan tertawa tak mengenal malu.Namun aku hanya duduk berdiam. Bersama kekasihku...
Ia mengajakku berdansa, namun ku menolak. Seiring pikiran ku yang hanya bertuju pada Joko yang masih sibuk berangan dalam pikirannya sendiri.

***

Kekasihku.. Seseorang yang sangat cantik. Gaun merahnya menyelimuti tubuh indahnya, sesekali ia membenarka letak rambutnya. Aku mencintainya, namun entah kenapa keadaan ini menyebabkanku harus memberikan kediaman kepadanya. Mungkin dia marah dan terakhir ku ucapkan adalah 

"Pesta ini tak sebesar cintaku padamu. Maka izinkanlah aku menyendiri, karena disuatu saat kau akan mengerti pesta yang sesungguhnya.."

Ia bergegas meninggalkanku, mungkin marah. Namun... Aku ingin berdiam sendiri. Aku ingin mengamati segala gerak gerik anak yang bernama Joko itu. Aku masih bertanya tanya dalam benak kesuyianku

"Autis?"

Tapi senantiasa aku menjawab pertanyaan ku sendiri

"Mungkin... dia orang kaya. Tak patut dipikirkan. Orang tuanya pasti mampu mengganti kerusakan apapun yang anak ini lakukan."

Seiring keingin tauanku yang tak kunjung mereda, sesekali aku bicara dalam diriku sendiri. 
"Bersyukurlah saya atas apa yang tuhan berikan"

Acara ini umum.. siapapun orang pastilah diperbolehkan masuk. Siapa sangka pula aku bertemu dengan Joko itu dan ku yakin esok, tuhan akan mentakdirkan tentang pertemuanku selanjutnya.

Joko terus saja berdawai dengan setiap apapun di hadapannya, Tiba saatnya ia lewat di hadapanku. Tanpa sadar gelas yang ku pegang, ikut diraihnya. dan dijatuhkannya ke lantai hingga pecah. Apakah yang ada di pikiran Joko saat ini? siapa yang tahu..

Dan.. Ku maklumi segalanya. Hingga acara ini berakhir.

***

Larutnya malam tak menghalangi aura mataku yang ingin tertutup. Hingga di kamarku sudah tak terbentuk pula yang kulihat. Wajah Joko masih merambat di pikiran, entah mengapa aku bersalah mungkin dalam pemikiran ini, tapi... Itulah Joko.

***

Kicau burung menghantui pendengaran ku yang agak kusam karna malam tadi. Aku hanya duduk berdiam dikala semua isi rumah mungkin tak menghawatirkan setiap kelakuan yang diperbuat.

Angin pagi yang masih sejuk melewati setiap sisi kulitku yag benar benar tak mengkhawatirkan apapun

Namun kesantaian itu seketika berubah ketika kulihat joko berjalan di depan serambi rumahku. Siapa yang tahu... Tuhan bertakdir.. Aku bertemu dengannya lagi.. 
Namun, Ialah Joko. tetaplah sama..

***
Pandangan keingin tahuan yang sangat tinggi hingga Joko melihat setiap sudut pandang hadapan dirinya. 
Berontak mungkin.. Namun seketika ia diam.
Aku bingung apa yang ia lakukan. Apa yang ada di pikirannya. Apa yang ia rasakan.

Seseorang berumur sebaya dengan Joko, berjalan di hadapannya sambil tersenyum dingin. Gadis kecil nan cantik itu berbicara sedikit kepada Joko

"Siapa namamu?"

Joko hanya terdiam. Benar benar terdiam, sambil menyambut salam dari gadis itu.
Ucapan yang demikian dilontarkan.
Wajah Joko memerah.. tangannya gemetar, sambil bersalaman..

Entah aku menganggap ini kali pertama nya Joko mengenal arti Cinta.

Kepadanya aku mengerti. Cinta itu lahir bukan pada orang pintar atau kaya. Bukan memilih dan segala keadaan tak kan ada yang menebak..

Hancur.. mana ada inta yang dapat berjalan mulus. Otak berlogika, Hati berperasaan. Kadang hancur juga
Dan  akhirnya... Itulah yang ku dapat :)

Visitor

free counters
Ada kesalahan di dalam gadget ini